Bursa saham AS terjungkal setelah Menteri Keuangan Henry Paulson mengatakan bahwa ia tidak akan menggunakan lagi dana penyelamatan ekonomi AS sebesar 700 milyar dollar untuk menyelamatkan bank-bank yang terlilit hutang, tapi ia akan menggunakan dana itu untuk memberikan modal bagi institusi-institusi non perbankan.
Pernyataan Paulson ternyata menimbulkan repon negatif di bursa AS, karena kebijakan itu dikhawatirkan justru akan makin menambah rumit persoalan ekonomi yang sedang dialami AS. Diantara saham yang harganya jatuh adalah saham American Express Co. Perusahaan kartu kredit terbesar ini sekarang membutuhkan dana bantuan sebesar 3,5 milyar dollar dari pemerintah untuk menambah modal mereka.
Saham lainnya yang juga merosot adalah saham Morgan Stanley, yang turun sebesar 6 persen. Pada saat yang sama, salah seorang Presiden Morgan Stanley, James Gorman dalam sebuah konferensi di New York mengatakan, perusahaannya berencana melakukan pemangkasan jumlah tenaga kerja termasuk asset-asset unit manajemennya.
Meski pemerintah AS sudah mengeluarkan dana penyelamatan, situasi perekonomian Negeri Paman Sam itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulih, bahkan makin memburuk. Terpilihnya Barack Obama sebagai presiden baru AS, juga tidak mampu memacu sentimen pasar.
Resesi ekonomi nampaknya sudah tak terbendung lagi, karena situasi serupa juga dialami negara-negara besar lainnya di Eropa dan Asia . Jerman bahkan sudah dikatagorikan mengalami resesi ekonomi, karena perekonomiannya hanya berkontraksi sebesar 0,5 persen memasuki kuartal ketiga tahun ini dan itu sudah berlangsung selama dua semester berturut-turut. Sehingga secara teknis, Jerman dikatakan sudah mengalami resesi ekonomi.
Pergerakan ekonomi yang nyaris stagnan itu, merupakan resesi ekonomi terburuk yang dialami negara Jerman selama 12 tahun belakangan ini. Para ekonom mengingatkan, akibat krisis keuangan global, pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan terhenti tahun depan
Analis pasar di BGC Partners, David Bulk pada Aljazeera mengatakan, "Seluruh dunia, dari AS sampai ke Timur, berusaha menyangkalnya selama tiga bulan terakhir. Tapi data-data yang ada di lembaga-lembaga regulasi sejak bulan September kemarin menunjukkan indikasi jelas bahwa kondisi perekonomian semua negara sudah jatuh dan ini semua disebabkan oleh kredit atau kurangnya kredit."
"Bank-bank tidak mau menawarkan uang karena mereka berjuang agar neraca keuangan mereka tetap seimbang. Kecuali pasar antar bank membaik, Anda akan melihat kehancuran ekonomi di negara Jerman, Prancis, Inggris Raya dan seluruh Eropa," papar Bulk.
Di kawasan Asia, macan-macan Asia seperti China dan Jepang juga mengalami krisis ekonomi. China mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sementara Jepang nilai ekspornya turun hampir 10 persen pada bulan Oktober dan tingkat kebangkrutan perusahan-perusahaan di Negara Matahari Terbit itu melonjak hingga 13,4 persen.
Pertemuan G20 dan Proteksionisme
Kini, para investor sedang menunggu pertemuan tingkat tingga para pemimpin negara G20 yang rencananya akan berlangsung di Washington hari Sabtu lusa. Mereka menantikan solusi baru apa yang bakal ditawarkan G20 untuk mengatasi krisis perekonomian dunia, selain penurunan suku bunga dan rekapitalisasi perbankan yang sudah dilakukan sejumlah negara dan menelan biaya lebih dari 4 triliun dollar.
"Kami memerlukan kebijakan moneter dan fiskal yang lebih terkordinasi di seluruh dunia ... sebuah respon yang luas dan konkrit," kata Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dalam keterangan persnya.
"Prioritas kedua, adalah kesepakatan untuk membuat jadwal bagi langkah-langkah yang akan dilakukan untuk memperbaiki kegagalan dalam sistem perbankan kita," sambung Brown.
Menjelang pertemuan G20, para penasehat Presiden Bush berjanji pertemuan itu akan menggelar diskusi-diskusi yang mendalam dan hasil-hasil yang konkrit. Namun mereka tidak bisa menjanjikan pemulihan bisa berlangsung cepat.
Presiden Bush menyatakan akan menekankan pada peserta pertemuan bahwa reformasi ekonomi tidak akan berhasil jika tidak dibarengi dengan sistem pasar bebas dan persaingan.
"Retorika proteksionisme untuk melindungi pasar atau perusahaan tidak akan membantu stabilitas pasar. Hal itu hanya akan menimbulkan ketidakpastian," kata Dan Price, deputi penasehat keamanan nasional Bush bidang hubungan ekonomi internasional.
JUAL KURSI RODA BARU MULAI DARI Rp.650.000 (HARGA TERMURAH NIH, BURUAN SEBELUM KEHABISAN)
Silahkan pilih produk berikut :
Ekonomi AS dan Eropa Ambruk, Resesi Dunia di Depan Mata
LET'S SAVE OUR NATION
Mari Kita Selamatkan Bangsa Kita
Krisis keuangan global kian menebar ancaman menjadi krisis ekonomi global
yang tidak main-main, bursa saham guncang dan nilai tukar Rupiah semakin
melemah, ini semua menjadi indicator bahwa akan ada bencana baru yang siap
menerkam.
Para kaum Kapitalis yang ingin meraup keuntungan dengan cara cepat dan
menjadi SERAKAH akhirnya menjadi sumber dari segala krisis yang kita belum
tau kapan akan berakhir.
Pertanyaannya adalah apa yang bisa kita lakukan untuk ikut membantu agar
krisis ini tidak menghancurkan sendi-sendi perekonomian Bangsa ini? Tentu
kita tidak ingin ini menjadi periode 10 Tahunan (1998 -2008), mimpi kelam
krisis ekonomi 10 tahun lewat tentu tidak ingin kita munculkan kembali,
tapi jika Anda tidak peduli maka bisa saja hal ini akan terjadi!!!!
Dan jika itu terjadi maka Bangsa ini akan semakin terpuruk, akan muncul PHK
besar-besaran, sector riil yang tidak bergerak, system perbankan yang sudah
tidak dipercaya lagi dan akhirnya kita kembali ke NOL lagi.
Jika Anda masih mencintai Bangsa ini maka ada banyak hal yang bisa Anda
lakukan, paling tidak MULAILAH DARI DIRI ANDA SENDIRI..!! , contoh kecil
sbb :
Jika Anda seorang awam sebagaimana saya, maka yang bisa kita lakukan
adalah :
Gunakanlah PRODUKSI DALAM NEGERI dalam semua aktivitas hidupmu,
dengan langkah ini akan menyelamtkan Sektor Riil, usaha-usaha
kecil akan berkembang, dan akhirnya kita bisa berdiri tegak dan
mengatakan KITA BISA HIDUP DARI NEGERI KITA SENDIRI.
Langkah kecil lain jangan sok mengkonsumsi produk makanan luar
negeri, jika anda senang makan Durian tidak perlu durian
Bangkok Thailand cukup durian local toh tidak kalah rasanya,
jika senang makan Jagung? Tidak perlulah Jagung Thailand cukup
jagung local, tidak perlu makan makan di outlet2 dengan brand
luar negeri, toh ayam kampung kita tidak kalah nikmatnya, hal
kecil ini kadang tidak kita sadari tapi ketahuilah EFEK nya
sangat luarbiasa, anda bisa bayangkan jika semua anak bangsa
ini berfikiran sama, jika anda konversikan dengan modal yang
beputar maka Anda akan kaget dan heran akan IMPACT yang sangat
luar biasa, yakin dan percayalah dengan cara kecil ini Krisis
ini tidak akan terjadi DISINI di BUMI INDONESIA.
Gunakan angkutan Massal jika itu anda bisa lakukan, itu akan
membantu untuk mengurangi konsumsi energi yang luar biasa yang
sebetulnya tidak perlu, disamping mengurangi polusi, jangan
lupa disamping krisis keuangan yang berpotensi menjadi krisis
Ekonomi kita juga dihadapkan dengan krisis Energy..!!
kenyamanan mungkin belum kita pikirkan sekarang, percayalah
bahwa aroma sesaknya penumpang di Angkot dan bus – bus itu
masih menimbulkan secercah harapan bahwa sector riil kita masih
bergerak.
Berbelanjalah di pasar-pasar tradisional, berdayakan
warung-warung Kaki lima, percaya atau tidak Ekonomi Kerakyatan
terbukti mampu menyelamatkan perekonomian kita.
Jika Anda seorang pelaku bisnis maka tolong jangan hanya memikirkan
untuk meraup keuntungan pribadi semata-mata hanya dengan memikirkan
Import barang-barang murah yang hanya akan menghancurkan produk dalam
negeri, jangan lari dari tanggung jawab dengan membawa lari modal ke
luar negeri, ingat menjaga, mengusahakan agar Capital Inflow akan
lebih bijkasana dan akan sangat membantu Negeri ini, jangan biarkan
capital outflow terjadi itu sama dengan menghancurkan perekonomian
Rakyat
LET’S SAVE OUR NATION, START FROM YOUR SELF..!!!!.
Lakukan hal sederhana ini maka Anda akan lihat akibat penyelamatan yang
luar biasa.
Dengan meneruskan pesan ini ke relasi dan sahabat Anda, berarti Anda sudah
ikut mengingatkan Saudara Sebangsa Kita untuk Ikut PEDULI menyelamatkan
Bangsa ini.
Kalau Langit Masih Kurang Tinggi
Krisis Subprime di Amerika Serikat
Oleh: Dahlan Iskan
CEO Jawa Pos
Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya 'menceritakan'
secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga,
banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya
bukan dokter. Saya coba:
Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.
Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.
Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang,
sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.
Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para
pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi
dibanding waktu mereka beli dulu: untung.
Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual
saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian
banyak.
Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik,
terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih,
terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut:
hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan
seterusnya.
Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan
dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi
kadang bisa rugi?
Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa
disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa? Pertama,
agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat
bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan
pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan
besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana
bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?
Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti
tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk
terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus
dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru.
Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain.
Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang
licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.
Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk
bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat
jalan.
Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para
direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun.
Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah
happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena
dapat dukungan atau sumber dana.
Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan
kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli
kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya.
Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.
Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak
bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara
lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS
yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2
triliun!
Sudah lebih dari 60 tahun cara 'membesarkan' perusahaan seperti itu
dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS
dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.
Tapi, itu belum cukup.
Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak
cukup lagi: harus computerized!
Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat
harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah
harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.
Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi
perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat,
dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang
kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing
atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.
Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli
rumah?
Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih
besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan
alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar?
Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset
bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin
besar?
Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada 1980,
pemerintah bikin keputusan yang disebut 'Deregulasi Kontrol Moneter'.
Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan
menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari
bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua
tahun kemudian.
Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan,
asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang
dimanfaatkan perbankan secara nyata.
Begini ceritanya:
Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam
undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan
memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR,
meski tidak sama).
Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil
mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan
karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.
Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang
terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai
naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat
orang yang bisa mendapat mortgage.
Dengan keluarnya 'jalan baru' pada 1980 itu, terbuka peluang untuk
menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank
bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para
broker dan bisnis lain yang terkait.
Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka,
ada lagi 'jalan baru' yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni,
tahun 1986.
Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya:
pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi
pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli
rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.
Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar
biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau
Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua
keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga
terjamin.
Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis
menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang
disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung
menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus
meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.
Kata 'mortgage' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya:
matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage,
Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan
kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan
Anda belum lunas.
Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah
itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan
rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu
dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah
tersebut.
Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman
Brothers?
Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena
fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh 'para pelaku
bisnis keuangan' sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan
meningkatkan laba.
Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas
mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah.
Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.
Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik
rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage-kan lagi untuk membeli rumah
berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan
kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat
ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut
dalam memberi kredit rumah.
Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam
undang-undang perbankan yang keras.
Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.
Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan 'bank jenis lain'
yang disebut investment banking.
Apakah investment banking itu bank?
Bukan. Ia perusahaan keuangan yang 'hanya mirip' bank. Ia lebih bebas
daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal:
menerima macam-macam 'deposito' dari para pemilik uang, meminjamkan uang,
meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli
rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa
lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan!
Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment
banking itu.
Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman
tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya
kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja:
kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada
orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah 'personal banking'.
Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang
menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya
dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak
sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.
Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya
serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka
lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak
menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.
Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya
orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang
memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.
Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh
besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang
yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang
bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.
Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat
mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan
terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan
pengeluaran.
Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi,
pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari
mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita,
bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak
pernah dipikirkan jangka panjangnya.
Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari
10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita
sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang
jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan
rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak
yang gagal bayar.
Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan
rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain
itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang
beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu
domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.
Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum
ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar.
Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar,
memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan
masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?
Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau
menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak
USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara
Indonesia dijadikan satu.
Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan
rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang
Indonesia yang 'menabung'-kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking
yang kini lagi pada kesulitan itu.
Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak
banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura,
Hongkong, atau Tiongkok.
Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi
salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan
Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun,
yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara
besar-besaran ke sana. Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.





























